Mungkin

Kala itu senja belum datang
Masih menggantung diujung langit mendung
Angin masih lembut membelai
Dan kau menangkupkan tangan
Pada wajahku
Mewakilkan sejuta kecupan lara
Hanya sebentar
Beberapa detik
Kau singgahkan tanganmu lembut di pipiku
Kemudian lampau tergerus waktu
Detik berikutnya
Kau telah kembali menggenggam jemarinya
Kemudian kembali berpaling
Hanya sosok punggungmu yang kutatap dengan harap
Untuk detik yang kesekian
Aku sadar
Bahwa kau tak pernah melepas jemarinya
Selagi tanganmu menangkup wajahku
Kau tak pernah benar nyata
Dan aku terlalu berharap

0 komentar:

Posting Komentar