Surat cinta
Aku mengabarkan segala prasangka lewan bualan angan
Tidakkah itu menggelikan
Hal yang seharusnya aku ucapkan
Hanya bisa aku lalukan lewat sebuah basa basi
Apakah kau berfikir ini surat cinta?
Ya...aku berfikir demikian
Karena demikianlah adanya
Bukan kau yang salah mengartikan
Hanya aku yang tak pandai menulis surat untukmu
Buruk?
Aku pikir sangat
Kau tau mengapa aku menulis ini?
Karena aku tau
Bahwa surat ini tak akan kau baca
Bahwa kenyataannya memang iya :)
Kau tak akan baca...
To: Ahmad Ade Kurniawan
jeda
Jadi bagaimana rentang ini membunuh kita
Hanya dengan angan bahwa jarak menjadi pisaunya
Bahwa mimpi mungkin menjadi belatinya
Seketika karma tertawa
Menandak bahagia
Meleceh dan mencela
Tergelak oleh kita
Yang dulu pernah mencela jarak dan jeda
Semakin tak jengah
Ketika nukleus nukleus rindu
Hanya mengalir lewat nadi nadi dunia maya
Persetan dengan semua arteri jarak
Bahwa mengilhami jeda tak semudah aku bernafas
Hanya dengan angan bahwa jarak menjadi pisaunya
Bahwa mimpi mungkin menjadi belatinya
Seketika karma tertawa
Menandak bahagia
Meleceh dan mencela
Tergelak oleh kita
Yang dulu pernah mencela jarak dan jeda
Semakin tak jengah
Ketika nukleus nukleus rindu
Hanya mengalir lewat nadi nadi dunia maya
Persetan dengan semua arteri jarak
Bahwa mengilhami jeda tak semudah aku bernafas
pukul 9
Aku masih menginginkan kata itu
Membidik..
Ada dalam tulisanku
Seperti halnya sore yang terlalu lekas
Menjadi pukul sembilan
Tebak saja sendiri
Bagaimana kesinambungan itu terjadi
Karena aku hanya menulis..
Ah.. bukan
Aku hanya meracau
Bukti kekalutan pikiran manusia yang nyata
Kenyalangan mata yang terlalu kentara
Sembari memikirkan banyaknya huruf dan kata
Yang aku sendiri tak tau bagaimana makna itu sebenarnya lahir
Atau dari janin ia mana berasal
Mungkin Tuhan tau
Ah tidak...
Dia tidak akan memberi tahu
Harusnya kuhitung saja semua
Kemudian mengepulkan dan berdiri
Dan tertawa lantang
Layaknya anjing gila mendapat tulang
Akankah itu menjadi tabu?
Teh dan segelas ampyang kacang
@hellobaiq
Membidik..
Ada dalam tulisanku
Seperti halnya sore yang terlalu lekas
Menjadi pukul sembilan
Tebak saja sendiri
Bagaimana kesinambungan itu terjadi
Karena aku hanya menulis..
Ah.. bukan
Aku hanya meracau
Bukti kekalutan pikiran manusia yang nyata
Kenyalangan mata yang terlalu kentara
Sembari memikirkan banyaknya huruf dan kata
Yang aku sendiri tak tau bagaimana makna itu sebenarnya lahir
Atau dari janin ia mana berasal
Mungkin Tuhan tau
Ah tidak...
Dia tidak akan memberi tahu
Harusnya kuhitung saja semua
Kemudian mengepulkan dan berdiri
Dan tertawa lantang
Layaknya anjing gila mendapat tulang
Akankah itu menjadi tabu?
Teh dan segelas ampyang kacang
@hellobaiq
Kamu
Tanganku kembali dan tak lagi segan
Merengkuh segala peluh yang kau cambukkan
Pada raga yang tak kunjung meluruh
Aku melihatnya seperti sebuah benteng sesal yang kau genapi dengan angkuh
Mungkin menafsirkan cacat yang tak kasat
Hanya berisi kepulan abjad doa
Merapalnya sendiri dan membetisnya hingga tak lagi dapat runtuh
Aku mengartikannya sebagai nebula kehidupanmu
Yang tak kunjung baik meski getir asa tak lagi hinggap
Mungkin diantara jutaan akal
Ada tawa yang hilang dan terselip mati
Sampai ia sendiri melupa
Bahwa pernah ada tawa yang ia kehendaki
Merengkuh segala peluh yang kau cambukkan
Pada raga yang tak kunjung meluruh
Aku melihatnya seperti sebuah benteng sesal yang kau genapi dengan angkuh
Mungkin menafsirkan cacat yang tak kasat
Hanya berisi kepulan abjad doa
Merapalnya sendiri dan membetisnya hingga tak lagi dapat runtuh
Aku mengartikannya sebagai nebula kehidupanmu
Yang tak kunjung baik meski getir asa tak lagi hinggap
Mungkin diantara jutaan akal
Ada tawa yang hilang dan terselip mati
Sampai ia sendiri melupa
Bahwa pernah ada tawa yang ia kehendaki
Ada
Selagi aku mengetuk buku jari keheningan
Segala laras budi ini harus tidur berangan
Dipadatkan belikat tanpa ingkaran
Goresan yang tak kunjung luruh, tapi berbalut alasan
Bersolek di depan nisan yang tak rupawan
Alangkah baik dia tak berelegi, hanya alasan
Sedikit lagi aku mati, tapi sendirinya janin surgawi luruh berantakan
Segala laras budi ini harus tidur berangan
Dipadatkan belikat tanpa ingkaran
Goresan yang tak kunjung luruh, tapi berbalut alasan
Bersolek di depan nisan yang tak rupawan
Alangkah baik dia tak berelegi, hanya alasan
Sedikit lagi aku mati, tapi sendirinya janin surgawi luruh berantakan
Rapalan Abjad dan Waktu
Sesaat aku berhenti merapal kepungan abjad
Menarik seluruh elegi diantara bibir yang berkutat tak merapat
Disaksikan dia yang tak menyuara
Dia yang berulang kali ingin kubunuh untuk kembali ke rotasi yang sama
Aku melanjutkan
E..F..G...H..I
Dan berhenti lagi
Melihat dia yang tak jengah menunggu
Haruskah ini berjajar serapi naluri yang tak bernyali ?
Aku tak ingin melanjutkan
Hafalan itu limbung berantakan
Dan serapah tercecer berserakan
Aku tak tau pasti kapan dia akan berhenti
Sedangkan umurnya tak pernah lagi sama
Harusnya dia berhenti
Merengkuh raga yang tergerus olehnya
Menarik seluruh elegi diantara bibir yang berkutat tak merapat
Disaksikan dia yang tak menyuara
Dia yang berulang kali ingin kubunuh untuk kembali ke rotasi yang sama
Aku melanjutkan
E..F..G...H..I
Dan berhenti lagi
Melihat dia yang tak jengah menunggu
Haruskah ini berjajar serapi naluri yang tak bernyali ?
Aku tak ingin melanjutkan
Hafalan itu limbung berantakan
Dan serapah tercecer berserakan
Aku tak tau pasti kapan dia akan berhenti
Sedangkan umurnya tak pernah lagi sama
Harusnya dia berhenti
Merengkuh raga yang tergerus olehnya
Elegi
Aku masih menyimpan segala yang kau anggap usai dan tak ada
Selagi raga yang hanya mampu mengecap tanpa menyuara
Mengandung janin janin keputus asaan, dan melahirkan sejumlah tanya
Aku masih ingat bagaimana ragamu luruh memelukku
Mencium setiap nukleus luka yang lama tak berlalu
Mencumbu hangat setiap kepulan dosa tanpa ragu
Dan aku masih tak mengerti
Bagaimana waktu begitu keji
Hingga aku harus menelan segumpal kenangan itu sendiri
Sedangkan kau menang dengan tawamu berdiri
Mungkin peluh egomu tak luruh
Masih menggantung di saku senja yang gemuruh
Dan aku yang masih saja tak teduh
Kebodohan untuk menunggumu kembali merengkuh
@hellobaiq :)
Selagi raga yang hanya mampu mengecap tanpa menyuara
Mengandung janin janin keputus asaan, dan melahirkan sejumlah tanya
Aku masih ingat bagaimana ragamu luruh memelukku
Mencium setiap nukleus luka yang lama tak berlalu
Mencumbu hangat setiap kepulan dosa tanpa ragu
Dan aku masih tak mengerti
Bagaimana waktu begitu keji
Hingga aku harus menelan segumpal kenangan itu sendiri
Sedangkan kau menang dengan tawamu berdiri
Mungkin peluh egomu tak luruh
Masih menggantung di saku senja yang gemuruh
Dan aku yang masih saja tak teduh
Kebodohan untuk menunggumu kembali merengkuh
@hellobaiq :)
Langganan:
Postingan (Atom)