Kopi Pagi

Kau merapatkanku ke bibirmu
Kau sesap perlahan
Setelah itu kau mendesah pelan
Tanganmu masih memeluk hangatku
Aku mendongak
Mencuri pandang untuk melihat wajahmu
Ekspresi apa yang kau tautkan
Aku sama sekali tak paham
Sedihkah?
Bahagiakah?
Kecewakah?
Aku tak pandai menerjemahkan ini
Kemudian matamu menatapku
Aku yang hanya tinggal separuh
Kau telanjangi dengan bulat matamu
Kemudian kau sesap lagi
Aku tak mendengar desah setelahnya
Hanya ada riuh sunyi yang mengisi
Adakah kau jengah dengan ini?
Aku ingin kau menangis saja
Atau tertawa menandak bahagia
Kumohon
Aku tak tau apa yang buncah dalam pikirmu
Berceritalah kepadaku
Apakah ada luka yang mencumbumu dengan ganasnya?
Apakah ada bahagia yang tak pernah alpa namun kadang dilupa?
Sungguh
Ini bukan waktu yang baik untuk bermain terka
Bibirmu kembali mendekat
Dalam satu tegukanmu
Aku hanya tinggal beberapa sisa
Ini akhirku hari ini
Masih ada beberapa
Tidakkah kau ingin bercerita?
Aku melihat sudut bibirmu terangkat
Apa benar terangkat?
Atau hanya sesuatu yang kau paksa untuk kau buat
Tetes terakhirku kau habiskan
Dan aku masih tak tahu pias apa yang kau lukis
Aku janji
Aku akan ada lagi
Esok hari
Atau setidaknya malam nanti

Sungguh

Dear Akar

Aku ingin membungkusnya dengan sederhana
Sesederhana bandana rambut kamelia
Dengan pita merah dan juga jalinan renda

Tapi apakah itu terlampau sulit?
Untuk segala bahagia yang begitu ingin kugigit
Bahkan ketika itu mulai terasa pahit
Diamku tak akan berubah dan berkelit

Sungguh, aku hanya perempuanmu
Yang selalu jatuh berulangkali untukmu
Takkan kubiarkan cacat menyentuhmu
Cukup kaki ini yang tergores dan beradu

Sungguh, aku hanyalah wanitamu...