Akar

Kepadamu : Sang Akar


AKU CINTA KEPADAMU

malam ini

Bunyi riuh motor hanya terdengar samar di telinganya. Lagu yang ia dengarkan terus mengalun. Masih lagu yang sama, ia putar berkali kali sambil sesekali iya bersenandung mengikuti lagu. Mulutnya yang komat kamit tak terlihat akibat tertutup masker, dan matanya menerawang jalanan melalui lensa kacamata yang ia kenakan. Sesekali ia mendentum demtukan tangannya di kaca spion motornya.
Ia mengamati setiap sudut jalan, penerangan yang sederhana namun terlihat syahdu.

And I....I hate to see your heart break
I hate to see your eyes get darker as they close, but I've been there before

Motor itu terus melaju menelanjangi jalanan malam kota solo. Kecepatamnya tak lebih dari 40 km perjam. Ia sengaja melaju lebih lambat, ia ingin menikmati malam ini di jalanan solo lebih lama.
Keinginannya untuk pulang hanya sebanyak 10% dari keinginannya menikmati binar malam.

Di perempatan itu ia berhenti. Lampu berwana merah menyala terang. Tersenyum bahagia.
Pandangan di depannya, membuatnya tertarik arus memorinya beberapa minggu lalu. Saat ia masih tertawa seperti itu di jok belakang motornya. Tangannya dilingkarkan di pinggang lelaki itu. Tersenyum.
Tidak di kota ini, tidak di kota jogja. Baginya keduanya terlihat sama saja dalam kilasan balik yang sarat arti itu. Candaan dan tawa renyah yang saling terlempar.
Kemudian lampu hijau menyeretnya kembali ke masa sekarang. Dimasa dimana dia sedang terenyak akan pusaran arus masa lalu yang beberapa detik lalu terputar jelas bak potongan film lama yang amat singkat tapi berbekas.
Jalanan itu ia hapal betul.
Ia hampir sampai di rumahnya. Terlihat penjual mister burger yang sudah tak asing baginya. Kemudian melewati sederet penjual bunga, beberapa kios yang tutup dan orang yang berlalu lalang.
Tepat di gang itu ia berbelok.
Menyusuri lekuk gang itu, hingga tiba di pertigaan terakhir. 

And now, I'm home....

yang pertama

Clusss.....

Kau tau loncatan itu?
Seperti percikan kecil yang menggetarkan seluruh semesta raga
Percikan yang mampu menimbulkan badai kosmik raga manusia
Meninggalkan saklar yang mampu berpercik lagi kala sengatan kecil itu hadir
Sengatan yang sama
Percikan yang sama
Getaran yang sama
Badai kosmik yang sama
Sama seperti saat ia masih menjejak belia
Dimana pikirannya masih seranum bunga kapas
Satu emosi yang ia ingin tanyakan artinya
Namun kemudian ia sendiri yang menjawabnya
Entah sadar atau tidak
Dia sudah ikut larut dalam derasnya alunan listrik kecil itu
Entah sadar atau tidak
Dia mulai menikmati sengatan sengatan kecil itu
Membuatnya tertawa tanpa perlu alasan
Membuatnya menangis hanya dengan acuhan
Membuat hatinya jungkir balik tak karuan
Menimbulkan emosi tak stabil dalam setiap sel dirinya
Ia mulai meyakini bahwa hipotesanya mungkin benar

Ia JATUH CINTA

Gadis belia itu jatuh cinta
Untuk pertama kalinya dia tahu dia jatuh cinta
CINTA PERTAMA-nya


Untuk pertama kalinya setelah setengah dekade
Semua itu kembali...

beda

Aku tidak harus mengerti mengapa tawanya yang bahagia itu terlihat nanar di mataku
Bagiku dunia tampak berbeda pada setiap sudut pandang individu ber-sel banyak
Bukankah semuanya memang selalu tidak sama dan berbeda?
Apalagi melalu pikiran pikiran dangkal manusia yang terkadang hanya tumbuh seujung kuku pertahun atau mungkin kurang
Tidakkah itu akan menjadi suatu diskriminasi pikiran?
Memang sudah terjadi
Ada si pintar dan si bodoh
Lebih tepatnya klasifikasi yang tak kasat dan sarat akan kedangkalan pola pikir
Aku menulis begini adanya
Tentang apa yang aku pikirkan terhadap pola pikir manusia
Yang terkadang lebih picik dari yang mereka kira
Lebih arogan dari yang mereka sadari
Dan aku tertawa ketika menyadari hal itu
Betapa banyak sekali kemunafikan yang tersembunyi dari setiap senyum ataupun gurauan seorang sahabat
Aku bukan menentang pola pikir atau adat yang kalian percaya
Aku hanya menambahkan bagaimana pola pikirku ke dalam jeda dunia