jeda

Jadi bagaimana rentang ini membunuh kita
Hanya dengan angan bahwa jarak menjadi pisaunya
Bahwa mimpi mungkin menjadi belatinya

Seketika karma tertawa
Menandak bahagia
Meleceh dan mencela
Tergelak oleh kita
Yang dulu pernah mencela jarak dan jeda

Semakin tak jengah
Ketika nukleus nukleus rindu
Hanya mengalir lewat nadi nadi dunia maya

Persetan dengan semua arteri jarak
Bahwa mengilhami jeda tak semudah aku bernafas

pukul 9

Aku masih menginginkan kata itu
Membidik..
Ada dalam tulisanku
Seperti halnya sore yang terlalu lekas
Menjadi pukul sembilan
Tebak saja sendiri
Bagaimana kesinambungan itu terjadi
Karena aku hanya menulis..
Ah.. bukan
Aku hanya meracau
Bukti kekalutan pikiran manusia yang nyata
Kenyalangan mata yang terlalu kentara
Sembari memikirkan banyaknya huruf dan kata
Yang aku sendiri tak tau bagaimana makna itu sebenarnya lahir
Atau dari janin ia mana berasal
Mungkin Tuhan tau
Ah tidak...
Dia tidak akan memberi tahu
Harusnya kuhitung saja semua
Kemudian mengepulkan dan berdiri
Dan tertawa lantang
Layaknya anjing gila mendapat tulang
Akankah itu menjadi tabu?



Teh dan segelas ampyang kacang
@hellobaiq

Kamu

Tanganku kembali dan tak lagi segan
Merengkuh segala peluh yang kau cambukkan
Pada raga yang tak kunjung meluruh

Aku melihatnya seperti sebuah benteng sesal yang kau genapi dengan angkuh
Mungkin menafsirkan cacat yang tak kasat
Hanya berisi kepulan abjad doa
Merapalnya sendiri dan membetisnya hingga tak lagi dapat runtuh

Aku mengartikannya sebagai nebula kehidupanmu
Yang tak kunjung baik meski getir asa tak lagi hinggap

Mungkin diantara jutaan akal
Ada tawa yang hilang dan terselip mati
Sampai ia sendiri melupa
Bahwa pernah ada tawa yang ia kehendaki