Secerah Pagi Datang

Aku berhenti berfikir walau hanya untuk sejenak. Meregangkan otot-otot syarafku yang mulai kaku. Kulirik jam di meja belajarku, tangan si mungil itu menunjukkan pukul 12.30. Ini sudah pagi, dan mataku sama sekali belum terpejam. Kuambil kaca dan kulihat terdapat lingkaran hitam di kedua mataku.
Rrrrriiiiinnngggggg.....handphone jadulku berbunyi riang. Dengan malas kuangkat telepon.
"Halo...?" jawabku.
"Lo begadang lagi Van?" suara di sebrang.
"Penting lo telpon gue sepagi ini?" jawabku ketus.
"Lo lagi dapet ya?"......"gue cuma khawatir sama lo..belakangan ini lo sering banget tidur di kelas !".
Aku hanya terdiam.
"Vanya???......Are you still alive??".
"Iya gue masih hidup...kalo nggak ada pentingnya lo telpon gue, mending gue matiin aja deh. lo ganggu banget!!".
"Lo kenapa sih Van?, lo marah sama gue? gara-gara Firman?"
"Kalo kepentingan lo cuma itu. gue matiin."
Tuut...tut..tut..tut....sambungan telpon terputus. Dan sekarang kepalaku terasa berat. Oh dear.
***
Istirahat siangku harus kuhabiskan dengan mengepel aula. Anaconda dalam perutku sudah menyanyi riang dari tadi, dan aku baru menyelesaikan setengah aula. Sial!!.

bersambung....... 

Novel New

. The Rainmaker: Sang Pembawa Mukjizat
ISBN: 9789792261905
Author: John Grisham
Language: INDONESIA
Type: SOFT COVER

Synopsis
Rudy Baylor, mahasiswa semester terakhir fakultas hukum, diminta memberikan nasihat hukum bagi sekelompok orang lanjut usia. Di situlah ia bertemu "klien" pertamanya Dot dan Buddy Black. Putra mereka, Donny Ray, menderita leukemia, dan perusahaan asuransi menolak membayar biaya pengobatannya. Mulanya Rudy tidak begitu berminat dengan kasus ini, tapi kemudian ia menyadari ini merupakan masalah penipuan licik oleh sebuah perusahaan raksasa terhadap orang-orang lemah yang buta hukum. Ia pun tergerak untuk membantu. Tapi masalahnya ia belum lulus, tak punya uang dan pekerjaan, dan mesti menghadapi salah satu pengacara top serta perusahaan terkemuka di Amerika.

adaptedfrom : www.google.com

Novel Dan Hujan Pun Berhenti

Judul : dan Hujan pun Berhenti
Penulis : Farida Susanty
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2007
Ukuran Buku : 13,8 cm x 20 cm
Tebal Buku : x + 321 halaman
Novel ini mengisahkan seorang anak muda bernama Leostrada Miyazao, korban broken home yang selalu menjadi biang kerok atas kekacauan di sekolah bersama geng-nya, The Bunch of Bastards. Kekerasan fisik dan mental yang dia terima dari kedua orangtuanya, kematian tragis sang pacar, konflik dengan teman se-geng, membuat hidupnya semakin hampa dan pada akhirnya ia tidak lagi mau mempercayai orang – orang terdekatnya dan menganggap semuanya penghianat. Suatu hari ia bertemu gadis bernama Spizaetus Caerina yang sedang menggantungkan teru teru bozu ( penangkal hujan khas Jepang). Spiza melakukan itu demi melaksanakan niat bunuh diri, sesuai tagline yang tertulis di cover novel. “Kamu mau bunuh diri?” “Ya, asal tidak hujan.” Seperti Leo, Spiza membenci hujan. Hujan mengingatkannya pada peristiwa yang teramat pahit di masa lalu. Kenangan buruk yang menghantuinya dalam mimpi dan membuatnya merasa tak mampu melanjutkan hidup. Persamaan tekanan batin membuat Leo dan Spiza dekat. Leo yang sinis dan membenci keluarganya sendiri ini menemukan pelabuhan yang teduh pada diri Spiza.
Farida Susanty sang penulis yang lahir di Bandung 18 Juni 1990. Ia menerbitkan novel perdananya ini pada saat ia masih menjadi siswa SMAN 3 Bandung kelas XII. Prestasi sastranya pernah masuk beberapa majalah, menang beberpa lomba cerpen universitas di Bandung. Esainya pernah masuk suplemen Belia, Pikiran Rakyat, mengikuti Coaching Cerpen KaWanku 2006, dan cerpennya menjadi juara pertama best three short stories Coaching Cerpen KaWanku 2006.
Novel ini sangat kental dengan pernak pernik Jepang. Mulai dari latar belakang keluarga konglomerat Miyazao, unsur budaya dalam teru teru bozu dan elemen adat masyarakat Jepang. Dalam beberapa situasi bahkan menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa tokoh utama percakapan dengan anggota keluarga. Semua hal ini memberi pembaca pengetahuan lebih tentang Jepang karena disediakan catatan – catatan kaki untuk menjelaskan maksud dari percakapan dengan bahasa Jepang.
Penulis menghadirkan beragam karakter yang tidak terpaku antara baik dan buruk. Seperti Tyo, musuh geng Leo, bahkan menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai teman. Atau bahkan kematian pacar Leo yang tragis justru menguak sebuah rahasia besar yang membuat Leo mengakhiri ratapannya dan mencoba untuk mensyukuri hidup.
Kesan gelap sangat menonjol dari novel ini, yang sudah terlihat dari cover yang berwarna hitam dan tagline yang membuat penasaran dengan kata – kata mendalam yaitu bunuh diri. Tidak hanya itu, kesan dark atau gelap juga terlihat dari jalan cerita dan karakter Leo yang keras. Penulis juga berani bermain dengan kata – kata kasar untuk novel bergenre teenlit. Seperti kata “darah” yang sering digambarkan dalam novel ini. Dan banyak bertaburan umpatan, caci maki, kekerasan, kemarahan, kedengkian, dan keputus asaan. Oleh karena itu, novel ini lebih tepat masuk ke genre chicklit dan tidak pantas untuk dibaca anak – anak remaja dibawah 16 tahun. Novel ini juga butuh keseriusan dalam membacanya. Pembaca dibawa menyelam ke kegelapan kehidupan sang tokoh yang membuat pembaca berdebar - debar. Tidak ada unsur santai dan rileks dalam membacanya. Oleh karena itu, novel ini sebaiknya tidak dibaca oleh Anda yang ingin mendapat hiburan dari menbaca sebuah novel.
Penasaran dengan “kegelapan” novel ini? Ingin tahu akhir kehidupan Leo? Apakah Spiza berhasil bunuh diri? Temukan jawabannya dalam “Dan Hujan pun Berhenti”.

adapted from : www.google.com

Movie keren :)

Review: The Cat

Sep 14, 2011 by Rangga    No Comments    Posted under: Asian Film, cinematherapy, Horror
Review The Cat
Sesuatu yang lumrah jika film horor asal negeri ginseng ini menempatkan seekor kucing untuk dihubung-hubungkan dengan dunia gaib, kucing memang selalu menjadi binatang yang tepat untuk dijadikan “alat” di sebuah film horor. Kucing pun sering dikait-kaitkan dengan berbagai macam mitos yang berkaitan dengan alam “sana”, di Indonesia misalnya jika ada orang yang meninggal lalu dilompati oleh kucing, niscaya mayat orang tersebut akan bangkit kembali. Hewan lucu favorit manusia untuk dipelihara ini pun dipercaya bisa melihat apa yang kita tidak bisa lihat, sudah banyak film horor yang menggambarkan kucing bisa melihat hantu. Di dunia barat sana, kucing juga dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan sihir. Well, “The Cat” atau Go-hyang-i: Jook-eum-eul Bo-neun Doo Gae-eui Noon (dalam bahasa Korea, panjang juga ya) sekali lagi akan memanfaatkan kucing sebagai medium, sebuah peringatan untuk memberitahu manusia, dalam hal ini aktor dalam film dan juga penonton jika ada “sesuatu”, ketika mereka mulai bersuara aneh. Semua berawal dari kucing… dan kucing akan menjadi kunci dari semua misteri dan teror yang akan ada di film yang disutradarai oleh Byun Seung-Wook ini.
“The Cat” mengawali ceritanya dengan memperkenalkan seorang perempuan cantik yang bekerja di sebuah salon hewan, So-Yeon (Park Min-Young). Walaupun terlihat normal, dia sebenarnya punya masa lalu yang kurang mengenakan, karena hal tersebut, So-Yeon terpaksa bolak-balik menemui psikiaternya jika terjadi masalah pada dirinya. Suatu hari, salonnya kedatangan kucing bernama Silky, seperti biasa juga So-Yeon mengurus setiap kucing pelanggan dengan baik, karena dia juga sayang kepada kucing. Keesokan harinya, pemilik kucing tersebut ditemukan tewas secara mengenaskan di sebuah lift, So-Yeon kebetulan lewat di tempat kejadian dan bertemu dengan seorang petugas polisi bernama Joon-Suk (Kim Dong-Wook), awalnya dia akan membawa Silky tapi akhirnya meminta So-Yeon untuk mengurusnya. Saya sudah bisa menebak, ada sesuatu yang tidak beres dengan kucing Persia tersebut, benar saja setelah So-Yeon membawanya ke tempatnya, tidak perlu waktu lama sampai dia melihat penampakan aneh. Awalnya So-Yeon mengira itu bagian dari trauma dan kembali kepada psikiaternya, namun kejadian demi kejadian aneh semakin sering muncul. Keadaan semakin menakutkan ketika tidak saja So-Yeon selalu didatangi hantu anak kecil yang menyeramkan, tetapi orang yang dia kenal mulai menjadi korban. Dibantu oleh Joon-Suk, So-Yeon pun mulai menelusuri jejak-jejak yang mengerikan berkaitan dengan misteri ini…apa kaitannya dengan Silky?
Berharap ini adalah film horor dari Korea yang menakutkan, “The Cat” justru melakukan kesalahan fatal sejak awal. Sebuah kesalahan yang pada akhirnya membuat semangat ini menurun drastis dan mood berantakan tak karuan, buruknya lagi sampai ke akhir, film ini ternyata tidak berusaha untuk membuat saya merinding, bahkan mencoba menggerakkan bulu kuduk saja tidak. Sudah biasa ya film horor ingin menampilkan hantu-nya sejak dari awal, setiap film punya alasannya masing-masing, dan untuk “The Cat” mungkin alasan itu karena ingin membuat kita penasaran lebih dahulu, untuk nantinya kita akan diajak ke misteri demi misteri yang berkaitan dengan kemunculan seekor kucing bernama Silky. Eh sayangnya kejutan yang seharusnya membuat saya ingin terus menonton, malah dibuat “kacangan”, hantu dengan efek komputer yang tiba-tiba muncul seakan dia tidak pernah lulus ujian menakuti manusia, yup sama sekali tidak menakutkan. Entah kenapa film ini lebih memilih untuk mempoles wajah si hantu dengan efek komputer kasar seperti itu, dengan mata kucing yang menggelikan pula. Alhasil bukannya menjerit, setiap kali hantu muncul saya justru tertawa, belum lagi melihat bagaimana cara dia muncul.
Review The Cat
“The Cat” punya banyak kejutan yang sudah bisa ditebak, kemunculan klise si hantu ini sebetulnya bisa saja menakutkan, tapi ya itu tadi, sejak awal saya sudah lebih dahulu tak “sreg” dengan sumber teror di film ini, bisa dibilang “ilfil”. Selain saya yang “pasti habis ini si hantu muncul”, “The Cat” juga menempatkan si hantu untuk menjadi narsir, kerap ingin menampakan diri, di tengah misteri yang dibangun dengan tidak maksimal juga. Maaf, tapi saya justru asyik tuh menghabisi cemilan di depan saya ketimbang sibuk ikut susah payah memecahkan misteri yang coba dirangkai oleh Byun Seung-Wook ini. Saya bukannya malas, tapi sang sutradara sepertinya tidak punya niat tulus untuk mengajak saya masuk kedalam cerita, walau alurnya bisa dibilang aman, tapi “The Cat” tetap saja membosankan buat saya. Ketika misteri belum habis dibahas, film ini kemudian “maksa” untuk menyelipkan sedikit romansa yang sama sekali tidak penting, alih-alih memberikan variasi cerita dan rasa simpatik kita pada tokoh utama, selipan tersebut tidak lebih dari bagian yang sama sekali tidak saya pedulikan. Bagaimana mau peduli jika dari awal toh film ini sudah kehilangan chemistry-nya dengan penonton yang ingin ditakuti.
Park Min-Young memang saya akui cantik, untuk urusan membuat mata (lelaki) ini tidak berkedip, pemeran So-Yeon sudah melakukan misinya dengan sukses. Beda lagi saat dia harus berakting, berpura-pura takut ketika melihat hantu yang kerap mengganggunya. Aktor/aktris dalam film horor itu punya peranan penting juga, dia punya pekerjaan rumah untuk mengajak kita untuk merasakan apa yang dia rasakan, misalnya ketika dia merasa ketakutan setengah mati, setengahnya lagi dibagikan kepada penontonnya. Jadi penonton tidak hanya dibiarkan mengikuti cerita tetapi bisa merasakan ketakutan yang sama yang dirasakan oleh mereka. So-Yeon tidak melakukan itu, ok dia memang terlihat ketakutan, tapi hanya sekedar mengerutkan dahi atau berteriak, sedangkan “rasa” ketakutan itu saya rasakan sangatlah kurang, padahal film ini sudah memberikan dia salah-satu adegan yang cukup menyeramkan (satu-satunya adegan cukup seram dalam film ini), tapi tidak juga membantunya, saya pun kembali asyik melahap makan siang (habis cemilan kemudian makan… laper yee). “The Cat” hanya terlihat menjanjikan di trailer, padahal Korea pun punya track record bagus soal film hantu-hantuan, tapi untuk kali ini saya dikecewakan. Sejak awal film ini sudah salah langkah, atmosfir horornya tidak terasa, kejutan dan juga penampakannya tidak berusaha “menantang” nyali penontonnya. Film horor yang terasa hambar dengan hantu yang justru terlihat “unyu”.

adapted from : www.google.com
 

Paramore- My Heart

I am finding out that maybe I was wrong
That I've fallen down and I can't do this alone

Stay with me, this is what I need, please?

Sing us a song and we'll sing it back to you
We could sing our own but what would it be without you?

I am nothing now and it's been so long
Since I've heard the sound, the sound of my only hope

This time I will be listening.

Sing us a song and we'll sing it back to you
We could sing our own but what would it be without you?

This heart, it beats, beats for only you
This heart, it beats, beats for only you

This heart, it beats, beats for only you
My heart is yours

This heart, it beats, beats for only you
My heart is yours
(My heart, it beats for you)

This heart, it beats, beats for only you (It beats, beats for only you)
My heart is yours (My heart is yours)

This heart, it beats, beats for only you (Please don't go now, please don't fade away)
My heart, my heart is yours (Please don't go now, please don't fade away)

(Please don't go now, please don't fade away) My heart is yours
(Please don't go now, please don't fade away) My heart is yours
(Please don't go, please don't fade away)
(Please don't go now, please don't fade away) My heart is...

Paramore

Paramore


Biografi :

PERSONAL
Paramore adalah grup band rock dari Amerika. Awalnya, grup band ini terdiri dari Hayley Nichole Williams di vokal dan keyboard, Josh Farro pada gitar dan vokal, Jeremy Davis pada bas, Zac Farro di drum serta Taylor York (rhythm guitar). Namun band tersebut pecah sehingga hanya menyisakan tiga personil yaitu vokalis Hayley Williams, Bassist Jeremy Davis, dan gitaris Taylor York.

Paramore dibentuk pada tahun 2004 di Franklin, Tennessee, Amerika Serikat oleh vokalis Hayley Williams, lead-guitarist Josh Farro, drummer Zac Farro, rhythm-guitarist Taylor York dan bassist Jason Clarke. Namun pada saat mereka akan masuk ke dunia major label, pihak label kurang setuju dengan keberadaan Taylor York dan Jason Clarke.

Kemudian Hayley membawa bassist Jeremy Davis dan rhythm-guitarist Jason Bynum untuk menggantikan mereka, dan pihak label pun setuju. Paramore lalu menandatangani kontrak dengan Fueled by Ramen. Nama Paramore sendiri dikabarkan diambil dari nama ibu dari bassist pertama mereka.

KARIR
Sejak terbentuk, mereka telah mengeluarkan 3 studio-album (ALL WE KNOW IS FALLING, RIOT!, dan BRAND NEW EYES) dan 1 EP (THE SUMMER TIC EP) serta sebuah live-album (THE FINAL RIOT!).

ALL WE KNOW IS FALLING dirilis sejak tahun 2005 lalu. Sedangkan di tahun 2007, Paramore meluncurkan album kedua mereka, RIOT!. Pada album kedua ini, Paramore mendapatkan platinum di negara mereka sendiri dan Gold Platinum di Inggris dan Irlandia.

Gaung Paramore mulai mencapai Asia, saat mereka meluncurkan single Decode yang menjadi soundtrack film TWILIGHT. Pada 25 November 2008, Paramore meluncurkan album THE FINAL RIOT! yang berisi album RIOT! dan bonus DVD konser mereka di Chicago.

Paramore akan menjadi tamu spesial pada konser musim panas No Doubt di tahun 2009 ini. Selain itu mereka juga dipercaya menyumbangkan lagunya untuk dijadikan OST. TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON. Dalam film ini mereka menyanyikan lagu berjudul Monster yang singlenya resmi dirilis pada 7 Juni 2011. Single ini tergabung dalam album OST TRANSFORMERS .

Video klip single Monster resmi dirilis pada bulan Juli 2011. Pasca rilis single tersebut, Paramore telah merencakan akan menggelar konser di beberapa negara, termasuk Indonesia.

DISKOGRAFI
Album
* ALL WE KNOW IS FALLING (2005)
* RIOT! (2007)
* BRAND NEW EYES (2009)


Single
Monster (2011)

adapted from : google